BIOGRAFI
TEUKU UMAR
1.
DATA
PRIBADI
|
NAMA LENGKAP
TEUKU UMAR
|
|
|
Lahir
|
|
|
Meninggal
|
|
|
Suami/istri
|
Cut
Nyak Sofiah
Cut Meuligou/Nyak Malighai Cut Nyak Dhien |
|
Anak
|
Dari
Cut Meuligou:
Teuku Sapeh Teuku Raja Sulaiman Cut Mariyam Cut Sjak Cut Teungoh Teuku Bidin Dari Cut Nyak Dhien Cut Gambang [1] |
|
Profesi
|
|
|
Agama
|
|
2.
RIWAYAT
HIDUP
Teuku Umar
dilahirkan di Meulaboh Aceh Barat pada tahun 1854. Ayahnya bernama Achmad
Mahmud yang berasal dan keturunan Uleebalang Meulaboh. Nenek moyang Umar
berasal dari keturunan Minangkabau yaitu Datuk Nachudum Sakti. Salah seorang
keturunan Datuk Nachudum Sakti pernah berjasa terhadap Sultan Aceh, yang pada
waktu itu terancam oleh seorang Panglima Sagi yang ingin merebut kekuasaannya.
Berkat jasa Panglima keturunan Minangkabau ini Sultan Aceh terhindar dari
bahaya. Berkat jasanya tersebut, orang itu kemudian diangkat menjadi Uleebalang
6 Mukim dengan gelar Teuku Nan Ranceh, yang kemudian mempunyai dua orang putra
yaitu Nanta Setia dan Ahmad Mahmud. (Mardanas Safwan: 1981 : 34). Sepeninggal
Teuku Nan Ranceh, Nanta Setia menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Uleebalang
6 Mukim. Ia mempunyai anak perempuan bernama Cut Nyak Dhin. Ahmad Mahmud kawin
dengan adik perempuan raja Meulaboh. Dalam perkawinan itu ia memperoleh dua
orang anak perempuan dan empat anak laki-laki. Dari keempat anak laki-lakinya,
salah satu bernama Teuku Umar. Jadi Umar dan Cut Nyak Dhien merupakan saudara
sepupu dan dalam tubuh mereka mengalir darah Minangkabau, darah seorang Datuk
yang merantau ke Aceh dan memasyhurkan namanya.
Baik Umar maupun
Cut Nyak Dhien pada masa kecilnya tidak pemah bertemu, mereka hanya mengenal
nama masing-masing. Ketika masih kecil, Umar merupakan anak yang sangat nakal,
tetapi juga sangat cerdas. Sebagai anak nakal, ia suka berkelahi dengan
teman-teman sepermainannya. Dalam perkelahian, ia juga sering dikeroyok, tetapi
ia tidak takut. Berkat keberanian dan keunggulan di antara teman-temannya, Umar
pernah diangkat sebagai Kepala Kelompok anak-anak di kampungnya. Dengan adanya
penghargaan itu, maka Umar semakin disegani dan ditakuti oleh kawan dan
lawannya bermain. Setelah berumur 10 tahun, ia memisahkan diri dari kehidupan
orang tuanya, mengembara di rimba Aceh dan bertualang dari daerah satu ke
daerah lain sambil mencari pengalaman hidup dan berguru. Setelah menginjak masa
remaja, sifat Umar mulai berubah. la pandai dan gemar bergaul dengan rakyat
tanpa membedakan kedudukan orang itu dalam masyarakat.
3.
PERANG
ACEH
Ketika perang Aceh meletus pada 1873
Teuku Umar ikut serta berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh lainnya, umurnya
baru menginjak 19 tahun. Mulanya ia berjuang di kampungnya sendiri, kemudian
dilanjutkan ke Aceh Barat. Pada umur yang masih muda ini, Teuku Umar sudah
diangkat sebagai keuchik gampong (kepala desa) di daerah Daya Meulaboh. Pada
usia 20 tahun, Teuku Umar menikah dengan Nyak Sofiah, anak Uleebalang Glumpang.
Untuk meningkatkan derajat dirinya, Teuku Umar kemudian menikah lagi dengan
Nyak Malighai, puteri dari Panglima Sagi XXV Mukim. Pada tahun 1880, Teuku Umar
menikahi janda Cut Nyak Dhien, puteri pamannya Teuku Nanta Setia. Suami Cut Nya
Dien, yaitu Teuku Ibrahim Lamnga meninggal dunia pada Juni 1878 dalam
peperangan melawan Belanda di Gle Tarun. Keduanya kemudian berjuang bersama
melancarkan serangan terhadap pos-pos Belanda.
Teuku Umar kemudian mencari strategi untuk
mendapatkan senjata dari pihak Belanda. Akhirnya, Teuku Umar berpura-pura
menjadi antek Belanda. Belanda berdamai dengan pasukan Teuku Umar pada tahun
1883. Gubernur Van Teijn pada saat itu juga bermaksud memanfaatkan Teuku Umar
sebagai cara untuk merebut hati rakyat Aceh. Teuku Umar kemudian masuk dinas
militer.
Ketika bergabung dengan Belanda, Teuku Umar
menundukkan pos-pos pertahanan Aceh, hal tersebut dilakukan Teuku Umar secara
pura-pura untuk mengelabuhi Belanda agar Teuku Umar diberi peran yang lebih
besar. Taktik tersebut berhasil, sebagai kompensasi atas keberhasilannya itu,
pemintaan Teuku Umar untuk menambah 17 orang panglima dan 120 orang prajurit,
termasuk seorang Pang Laot (panglima Laut) sebagai tangan kanannya, dikabulkan.
Dengan perbekalan perang yang cukup banyak, Teuku Umar berangkat dengan kapal
"Bengkulen" ke Aceh Barat membawa 32 orang tentara Belanda dan beberapa
panglimanya. Tidak lama, Belanda dikejutkan berita yang menyatakan bahwa semua
tentara Belanda yang ikut, dibunuh di tengah laut. Seluruh senjata dan
perlengkapan perang lainnya dirampas. Sejak itu Teuku Umar kembali memihak
pejuang Aceh untuk melawan Belanda. Teuku Umar juga menyarankan Raja Teunom
agar tidak mengurangi tuntutannya.
Teuku Umar membagikan senjata hasil rampasan kepada
tentara Aceh, dan memimpin kembali perlawanan rakyat. dan Teuku Umar berhasil
merebut kembali daerah 6 Mukim dari tangan Belanda. Nanta Setia, Cut
Nyak Dhien dan Teuku Umar kembali ke daerah 6 Mukim dan tinggal di Lampisang,
Aceh Besar, yang juga menjadi markas tentara Aceh.
Kemudian Teuku Umar sendiri merasa perang ini sangat
menyengsarakan rakyat. Rakyat tidak bisa bekerja sebagaimana biasanya, petani
tidak dapat lagi mengerjakan sawah ladangnya. Teuku Umar pun mengubah taktik
dengan cara menyerahkan diri kembali kepada Belanda. Setelah mendapatkan
jaminan keselamatan dan pengampunan, Teuku Umar menunjukkan kesetiaannya kepada
Belanda dengan sangat meyakinkan. Setiap pejabat yang datang ke rumahnya selalu
disambut dengan menyenangkan. Ia selalu memenuhi setiap panggilan dari Gubernur
Belanda di Kutaraja, dan memberikan laporan yang memuaskan, sehingga ia
mendapat kepercayaan yang besar dari Gubernur Belanda.
Kepercayaan itu dimanfaatkan dengan baik demi
kepentingan perjuangan rakyat Aceh selanjutnya. Sebagai contoh, dalam
peperangan Teuku Umar hanya melakukan perang pura-pura dan hanya memerangi
Uleebalang yang memeras rakyat (misalnya Teuku Mat Amin). Pasukannya disebarkan
bukan untuk mengejar musuh, melainkan untuk menghubungi para Pemimpin pejuang
Aceh dan menyampaikan pesan rahasia.
Pada suatu hari di Lampisang, Teuku Umar mengadakan
Pertemuan rahasia yang dihadiri para pemimpin pejuang Aceh, membicarakan
rencana Teuku Umar untuk kembali memihak Aceh dengan membawa lari semua senjata
dan perlengkapan perang milik Belanda yang dikuasainya. Cut Nyak Dhien pun
sadar bahwa selama ini suaminya telah bersandiwara dihadapan Belanda untuk
mendapatkan keuntungan demi perjuangan Aceh. Bahkan gaji yang diberikan Belanda
secara diam-diam dikirim kepada para pemimpin pejuang untuk membiayai
perjuangan.
Pada tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar keluar dari
dinas militer Belanda dengan membawa pasukannya beserta 800 pucuk senjata,
25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar. Berita larinya
Teuku Umar menggemparkan Pemerintah Kolonial Belanda. Gubernur Deykerhooff
dipecat dan digantikan oleh Jenderal Vetter. Tentara baru segera didatangkan
dari Pulau Jawa. Vetter mengajukan ultimatum kepada Umar, untuk menyerahkan
kembali semua senjata kepada Belanda. Umar tidak mau memenuhi tuntutan itu.
maka pada tanggal 26 April 1896 Teuku Johan Pahlawan dipecat sebagai Uleebalang
Leupung dan Panglima Perang Besar Gubernemen Hindia Belanda.
Teuku Umar mengajak uleebalang-uleebalang yang lain
untuk memerangi Belanda. Seluruh komando perang Aceh mulai tahun 1896 berada di
bawah pimginan Teuku Umar. la dibantu oleh istrinya Cut Nyak Dhien dan Panglima
Pang Laot, dan mendapat dukungan dari Teuku Panglima Polem Muhammad Daud.
Pertama kali dalam sejarah perang Aceh, tentara Aceh dipegang oleh satu
komando.
Pada bulan Februari 1898, Teuku Umar tiba di wilayah
VII Mukim Pidie bersama seluruh kekuatan pasukannya lalu bergabung dengan
Panglima Polem. Pada tanggal 1 April 1898, Teuku Panglima Polem bersama Teuku
Umar dan para Uleebalang serta para ulama terkemuka lainnya menyatakan sumpah
setianya kepada raja Aceh Sultan Muhammad Daud Syah.
Februari 1899, Jenderal Van Heutsz mendapat laporan
dari mata-matanya mengenai kedatangan Teuku Umar di Meulaboh, dan segera
menempatkan sejumlah pasukan yang cukup kuat diperbatasan Meulaboh. Malam
menjelang 11 Februari 1899 Teuku Umar bersama pasukannya tiba di pinggiran kota
Meulaboh. Pasukan Aceh terkejut ketika pasukan Van Heutsz mencegat. Posisi
pasukan Umar tidak menguntungkan dan tidak mungkin mundur. Satu-satunya jalan
untuk menyelamatkan pasukannya adalah bertempur. Dalam pertempuran itu Teuku
Umar gugur terkena peluru musuh yang menembus dadanya.
Jenazahnya dimakamkan di Mesjid Kampung Mugo di Hulu
Sungai Meulaboh. Mendengar berita kematian suaminya, Cut Nyak Dhien sangat
bersedih, namun bukan berarti perjuangan telah berakhir. Dengan gugurnya
suaminya tersebut, Cut Nyak Dhien bertekad untuk meneruskan perjuangan rakyat
Aceh melawan Belanda. Ia pun mengambil alih pimpinan perlawanan pejuang Aceh.
4.
KESIMPULAN
Perjuangan
bangsa indonesia menuju perjuangan di mulai dengan datangnya bangsa barat yang
tadinya hanya datang untuk melakukan perdagangan serta mencari rempah-rempah,
akan tetapi pada saat itu para bangsa barat melakukan serta mulai
mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia dan juga mulai memonopoli
perdagangan di indonesia.
Perjuangan
menentang penjajah belanda secara gagah berani dlakukan poleh rakyat diberbagai
daerah di indonesia yang menyebabkan kerugian besar bagi pihak penjajah belanda
juga membawa pengorbanan harta benda dan jiwa yang besar pula bagi bangsa
Indonesia namun sampai abad ke-20 belanda tidak dapat di usir dari Indonesia.
DAFTAR
PUSTAKA
Rindam Iskandar Muda. 2013. Teuku
Umar. Diakses online pada tanggal 12 Desember 2013.
Winarno. 2006. Sejarah Ringkas Pahlawan Nasional. Diakses
online pada tanggal 12 Desember 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar