Sultan
Iskandar Muda (1593-1636)
1.
Riwayat
Hidup
Sultan
Iskandar Muda merupakan raja paling berpengaruh pada Kerajaan Aceh. Ia lahir di
Aceh pada tahun 1593. Nama kecilnya adalah Perkasa Alam. Dari pihak ibu, Sultan
Iskandar Muda merupakan keturunan dari Raja Darul-Kamal, sedangkan dari pihak
ayah ia merupakan keturunan Raja Makota Alam. Ibunya bernama Putri Raja Indra
Bangsa, atau nama lainnya Paduka Syah Alam, yang merupakan anak dari Sultan Alauddin
Riayat Syah, Sultan Aceh ke-10. Putri Raja Indra Bangsa menikah dengan Sultan
Mansyur Syah, putra dari Sultan Abdul Jalil (yang merupakan putra dari Sultan
Alauddin Riayat Syah al-Kahhar, Sultan Aceh ke-3). Jadi, sebenarnya ayah dan
ibu dari Sultan Iskandar Muda merupakan sama-sama pewaris kerajaan. Sultan
Iskandar Muda menikah dengan seorang putri dari Kesultanan Pahang, yang lebih
dikenal dengan Putroe Phang. Dari hasil pernikahan ini, Sultan Iskandar Muda
dikaruniai dua buah anak, yaitu Meurah Pupok dan Putri Safiah. Perjalanan
Sultan Iskandar Muda ke Johor dan Melaka pada 1612 sempat berhenti di sebuah
Tajung (pertemuan sungai Asahan dan Silau) untuk bertemu dengan Raja
Simargolang. Sultan Iskandar Muda akhirnya menikahi salah seorang puteri Raja
Simargolang yang kemudian dikaruniai seorang anak bernama Abdul Jalil (yang
dinobatkan sebagai Sultan Asahan 1).
Sultan
Iskandar Muda mulai menduduki tahta Kerajaan Aceh pada usia yang terbilang
cukup muda (14 tahun). Ia berkuasa di Kerajaan Aceh antara 1607 hingga 1636,
atau hanya selama 29 tahun. Kapan ia mulai memangku jabatan raja menjadi
perdebatan di kalangan ahli sejarah. Namun, mengacu pada Bustan al-Salatin, ia
dinyatakan sebagai sultan pada tanggal 6 Dzulhijah 1015 H atau sekitar awal
April 1607. Masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda tersebut ini dikenal sebagai
masa paling gemilang dalam sejarah Kerajaan Aceh Darussalam. Ia dikenal sangat
piawai dalam membangun Kerajaan Aceh menjadi suatu kerajaan yang kuat, besar,
dan tidak saja disegani oleh kerajaan-kerajaan lain di nusantara, namun juga
oleh dunia luar. Pada masa kekuasaannya, Kerajaan Aceh termasuk dalam lima
kerajaan terbesar di dunia.
Sultan
Iskandar Muda dikenal memiliki hubungan yang sangat baik dengan Eropa. Konon,
ia pernah menjalin komunikasi yang baik dengan Inggris, Belanda, Perancis, dan
Ustmaniyah Turki. Sebagai contoh, pada abad ke-16 Sultan Iskandar Muda pernah
menjalin komunikasi yang harmonis dengan Kerajaan Inggris yang pada saat itu
dipegang oleh Ratu Elizabeth 1. Melalui utusannya, Sir James Lancester, Ratu
Elizabeth 1 memulai isi surat yang disampaikan kepada Sultan Iskandar Muda
dengan kalimat: “Kepada Saudara Hamba, Raja Aceh Darussalam”. Sultan kemudian
menjawabnya dengan kalimat berikut: “I am the mighty ruler of the religions
below the wind, who holds way over the land of Aceh and over the land of
Sumatera and over all the lands tributary to Aceh, which stretch from the
sunrise to the sunset (Hambalah sang penguasa perkasa negeri-negeri di bawah
angin, yang terhimpun di atas tanah Aceh dan atas tanah Sumatera dan atas
seluruh wilayah-wilayah yang tunduk kepada Aceh, yang terbentang dari ufuk
matahari terbit hingga matahari terbenam)”.
Pada masa
pemerintahannya, terdapat sejumlah ulama besar. Di antaranya adalah Syiah Kuala
sebagai mufti besar di Kerajaan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda. Hubungan
keduanya adalah sebagai penguasa dan ulama yang saling mengisi proses
perjalanan roda pemerintahan. Hubungan tersebut diibaratkan: Adat bak Peutu
Mereuhum, syarak bak Syiah di Kuala (adat di bawah kekuasaan Sultan Iskandar
Muda, kehidupan beragama di bawah keputusan Tuan Syiah Kuala). Sultan Iskandar
Muda juga sangat mempercayai ulama lain yang sangat terkenal pada saat itu,
yaitu Syeikh Hamzah Fanshuri dan Syeikh Syamsuddin as-Sumatrani. Kedua ulama
ini juga banyak mempengaruhi kebijakan Sultan. Kedua merupakan sastrawan
terbesar dalam sejarah nusantara.
Sultan
Iskandar Muda meninggal di Aceh pada tanggal 27 Desember 1636, dalam usia yang
terbilang masih cukup muda, yaitu 43 tahun. Oleh karena sudah tidak ada anak
laki-lakinya yang masih hidup, maka tahta kekuasaanya kemudian dipegang oleh
menantunya, Sultan Iskandar Tani (1636-1641). Setelah Sultan Iskandar Tani
wafat tahta kerajaan kemudian dipegang janda Iskandar Tani, yaitu Sultanah
Tajul Alam Syafiatudin Syah atau Puteri Safiah (1641-1675), yang juga merupakan
puteri dari Sultan Iskandar Muda.
2.
Pemikiran
Sultan
Iskandar Muda merupakan pahlawan nasional yang telah banyak berjasa dalam
proses pembentukan karakter yang sangat kuat bagi nusantara dan Indonesia.
Selama menjadi raja, Sultan Iskandar Muda menunjukkan sikap
anti-kolonialismenya. Ia bahkan sangat tegas terhadap kerajaan-kerajaan yang
membangun hubungan atau kerjasama dengan Portugis, sebagai salah satu penjajah
pada saat itu. Sultan Iskandar Muda mempunyai karakter yang sangat tegas dalam
menghalau segala bentuk dominasi kolonialisme. Sebagai contoh, kurun waktu
1573-1627 Sultan Iskandar Muda pernah melancarkan jihad perang melawan Portugis
sebanyak 16 kali, maski semuanya gagal karena kuatnya benteng pertahanan musuh.
Kekalahan tersebut menyebabkan jumlah penduduk turun drastis, sehingga Sultan
Iskandar Muda mengambil kebijakan untuk menarik seluruh pendudukan di
daerah-daerah taklukannya, seperti di Sumatera Barat, Kedah, Pahang, Johor dan
Melaka, Perak, serta Deli, untuk migrasi ke daerah Aceh inti.
Pada saat
berkuasa, Sultan Iskandar Muda membagi aturan hukum dan tata negara ke dalam
empat bidang yang kemudian dijabarkan secara praktis sesuai dengan tatanan
kebudayaan masyarakat Aceh. Pertama, bidang hukum yang diserahkan kepada
syaikhul Islam atau Qadhi Malikul Adil. Hukum merupakan asas tentang jaminan
terciptanya keamanan dan perdamaian. Dengan adanya hukum diharapkan bahwa
peraturan formal ini dapat menjamin dan melindungi segala kepentingan rakyat.
Kedua, bidang adat-istiadat yang diserahkan kepada kebijaksanaan sultan dan
penasehat. Bidang ini merupakan perangkat undang-undang yang berperan besar
dalam mengatur tata negara tentang martabat hulu balang dan pembesar kerajaan.
Ketiga, bidang resam yang merupakan urusan panglima. Resam adalah peraturan
yang telah menjadi adat istiadat (kebiasaan) dan diimpelentasikan melalui
perangkat hukum dan adat. Artinya, setiap peraturan yang tidak diketahui
kemudian ditentukan melalui resam yang dilakukan secara gotong-royong. Keempat,
bidang qanun yang merupakan kebijakan Maharani Putro Phang sebagai permaisuri
Sultan Iskandar Muda. Aspek ini telah berlaku sejak berdirinya Kerajaan Aceh.
Sultan
Iskandar Muda dikenal sebagai raja yang sangat tegas dalam menerapkan syariat
Islam. Ia bahkan pernah melakukan rajam terhadap puteranya sendiri, yang
bernama Meurah Pupok karena melakukan perzinaan dengan istri seorang perwira.
Sultan Iskandar Muda juga pernah mengeluarkan kebijakan tentang pengharaman
riba. Tidak aneh jika kini Nagroe Aceh Darussalam menerapkan syariat Islam
karena memang jejak penerapannya sudah ada sejak zaman dahulu kala. Sultan
Iskandar Muda juga sangat menyukai tasawuf.
Sultan
Iskandar Muda pernah berwasiat agar mengamalkan delapan perkara, di antaranya
adalah sebagai berikut. Pertama, ia berwasiat kepada para wazir, hulubalang,
pegawai, dan rakyat agar selalu ingat kepada Allah dan memenuhi janji yang
telah diucapkan. Kedua, jangan sampai para raja menghina alim ulama dan ahli
bijaksana. Ketiga, jangan sampai para raja percaya terhadap apa yang datang
dari pihak musuh. Keempat, para raja diharapkan membeli banyak senjata.
Pembelian senjata dimaksudkan untuk meningkatkan kekuatan dan pertahanan
kerajaan dari kemungkinan serangan musuh setiap saat. Kelima, hendaknya para
raja mempunyai sifat pemurah (turun tangan). Para raja dituntut untuk dapat
memperhatikan nasib rakyatnya. Keenam, hendaknya para raja menjalankan hukum
berdasarkan al-Qur‘an dan sunnah Rasul. Di samping kedua sumber tersebut,
sumber hukum lain yang harus dipegang adalah qiyas dan ijma‘, baru kemudian
berpegangan pada hukum kerajaan, adat, resam, dan qanun. Wasiat-wasiat tersebut
mengindikasikan bahwa Sultan Iskandar Muda merupakan pemimpin yang saleh, bijaksana,
serta memperhatikan kepentingan agama, rakyat, dan kerajaan.
3.
Karya
Surat
Sultan Iskandar Muda kepada Raja Inggris King James 1 pada tahun 1615 merupakan
salah satu karyanya yang sungguh mengagumkan. Surat (manuskrip) tersebut
berbahasa Melayu, dipenuhi dengan hiasan yang sangat indah berupa motif-motif
kembang, tingginya mencapai satu meter, dan konon katanya surat itu termasuk
surat terbesar sepanjang sejarah. Surat tersebut ditulis sebagai bentuk
keinginan kuat untuk menunjukkan kepada dunia internasional betapa pentingnya
Kerajaan Aceh sebagai kekuatan utama di dunia.
Masa
kejayaan Sultan Iskandar Muda, di samping kebijakan reformatifnya, juga
ditandai dengan luasnya cakupan kekuasaannya. Pada masanya, wilayah Kerajaan
Aceh telah mencapai pesisir barat Minangkabau dan Perak.
4.
Penghargaan
Melalui
Surat Keputusan Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 14 September 1993,
Sultan Iskandar Muda dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah RI
serta mendapat tanda kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana (Kelas II).
Sebagai wujud pernghargaan terhadap dirinya, nama Sultan Iskandar Muda
diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah daerah di tanah air, misalnya sebagai
nama jalan di Banda Aceh. Nama Iskandar Muda telah diabadikan sebagai nama
Kodam-1.
Cut Nyak
Dhien (Lampadang, 1848 – 6 November 1908
Sumedang, Jawa Barat; dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang)
adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan
Belanda pada masa Perang Aceh. Setelah wilayah VI Mukim diserang, ia mengungsi
sementara suaminya, Ibrahim Lamnga bertempur melawan Belanda. Ibrahim Lamnga
tewas di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878 yang menyebabkan Cut Nyak Dhien
sangat marah dan bersumpah hendak menghancurkan Belanda.
Teuku Umar, salah satu tokoh yang melawan Belanda, melamar
Cut Nyak Dhien. Pada awalnya Cut Nyak Dhien menolak, tetapi karena Teuku Umar
memperbolehkannya ikut serta dalam medan perang, Cut Nyak Dhien setuju untuk
menikah dengannya pada tahun 1880 yang menyebabkan meningkatnya moral pasukan
perlawanan aceh. Nantinya mereka memiliki anak yang bernama Cut Gambang.Setelah
pernikahannya dengan Teuku Umar, ia bersama Teuku Umar bertempur bersama
melawan Belanda, namun, Teuku Umar gugur saat menyerang Meulaboh pada tanggal
11 Februari 1899, sehingga ia berjuang sendirian di pedalaman Meulaboh bersama
pasukan kecilnya. Cut Nyak Dien saat itu sudah tua dan memiliki penyakut encok
dan rabun, sehingga satu pasukannya yang bernama Pang Laot melaporkan
keberadaannya karena iba. Ia akhirnya ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh,
disana ia dirawat dan penyakitnya mulai sembuh, namun, ia menambah semangat
perlawanan rakyat Aceh serta masih berhubungan dengan pejuang Aceh yang belum
tertangkap, sehingga ia dipindah ke Sumedang, dan ia meninggal pada tanggal 6 November
1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang.
1.
Kehidupan awal
Latar
belakang keluarga Cut Nyak Dhien dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat
beragama di Lampadang, wilayah VI Mukim pada tahun 1848. Ayahnya bernama Teuku
Nanta Setia, seorang uleebalang VI Mukim, yang juga merupakan keturunan
Machmoed Sati, perantau dari Sumatera Barat. Machmoed Sati mungkin datang ke
Aceh pada abad ke 18 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul
Badrul Munir. Oleh sebab itu, Ayah dari Cut Nyak Dhien merupakan keturunan
Minangkabau. Ibu Cut Nyak Dhien adalah putri uleebalang Lampagar.
2.
Masa kecil
Pada masa
kecilnya, Cut Nyak Dhien adalah anak yang cantik.Sewaktu kecil, ia memperoleh
pendidikan pada bidang agama yang dididik oleh orang tua ataupun guru agama,
rumah tangga (memasak, melayani suami, dan yang menyangkut kehidupan
sehari-hari) yang dididik baik oleh orang tuanya. Dan juga, banyak laki-laki
yang suka pada Cut Nyak Dhien dan berusaha melamarnya. Sehingga pada usia 12
tahun, dia sudah dinikahkan oleh orangtuanya pada tahun 1862 dengan Teuku Cek
Ibrahim Lamnga, putra dari uleebalang Lamnga XIII. Mereka memiliki satu anak
laki-laki.
3.
Perlawanan saat Perang Aceh
a.
Belanda menyerang Aceh
Pada
tanggal 26 Maret 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh, dan mulai
melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citdadel van
Antwerpen. Sehingga meletuslah Perang Aceh. Perang pertama (1873-1874), yang
dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Machmud Syah melawan Belanda yang
dipimpin Kohler. Saat itu, Belanda mengirim 3.198 prajurit. Lalu, pada tanggal
8 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen dibawah pimpinan Kohler, dan
langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman dan membakarnya. Cut Nyak
Dhien yang melihat hal ini berteriak:“Lihatlah wahai orang-orang Aceh!! Tempat
ibadat kita dirusak!! Mereka telah mencorengkan nama Allah! Sampai kapan kita
begini? Sampai kapan kita akan menjadi budak Belanda? ?.
Saat itu,
Kesultanan Aceh dapat memenangi perang ini. Ibrahim Lamnga yang bertarung di
garis depan kembali dengan sorak kemenangan, sementara Kohler tewas tertembak
pada April 1873.
b.
Kematian Ibrahim Lamnga
Ketika
Ibrahim Lamnga bertempur di Gle Tarum, ia tewas pada tanggal 29 Juni 1878. Hal
ini membuat Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah akan menghancurkan
Belanda.
c.
Pernikahan dengan Teuku Umar
Setelah
itu, Teuku Umar, tokoh pejuang Aceh, melamar Cut Nyak Dhien. Pada awalnya Cut
Nyak Dhien menolak, namun, karena Teuku Umar mempersilahkannya untuk ikut
bertempur dalam medan perang, Cut Nyak Dien akhirnya menerimanya dan menikah
lagi dengan Teuku Umar pada tahun 1880. Hal ini membuat meningkatnya moral
semangat perjuangan Aceh melawan Kapke Ulanda (Belanda Kafir). Nantinya, Cut
Nyak Dhien dan Teuku Umar memiliki anak yang bernama Cut Gambang.
d.
Reaksi Belanda
Teuku Umar
yang menghianati Belanda menyebabkan Belanda marah dan meluncurkan operasi
besar-besaran untuk menangkap baik Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar. Namun,
gerilyawan kini dilengkapi perlengkapan terbaik dari Belanda dan mengembalikan
identitasnya menjadi pasukan gerilyawan dan menyerang Belanda ketika jendral
Van Swieten diganti, dipermalukan dan dihina. Penggantinya, jendral Pel, dengan
cepat terbunuh dan pasukan Belanda berada pada kekacauan pada pertama
kalinya.Selain itu, Belanda mencabut gelar Teuku Umar dan membakar rumahnya,
dan juga mengejar keberadaannya.
e.
Pembantaian Jendral Van Der Heyden
Dien dan
Umar menekan Belanda dan menduduki Banda Aceh (Kutaraja) dan Meulaboh (bekas
basis Teuku Umar) dan Belanda terus-terusan mengganti jendral yang
bertugas.Pasukan gerilyawan kuat yang dilatih dan dibuat dan memimpil hal ini
sukses. Sejarah yang mengerikan bagi orang Belanda terus terjadi, tetapi,
jendral Van Der Heyden ditugaskan dan tidak pernah dilupakan oleh orang Aceh.
Pembantaian yang berdarah dilakukan terhadap laki-laki, wanita dan anak-anak
pada desa, ketika jendral Van Der Heyden masuk kedalam unit "De Marsose".
Mereka dianggap biadab oleh orang Aceh dan sangat sulit ditaklukan, selain itu,
kebanyakan pasukan "De Marsose" merupakan orang Tionghoa-Ambon yang
menghancurkan semua yang ada di jalannya, termasuk rumah dan orang-orang.Akibat
dari hal ini, pasukan Belanda merasa simpati kepada orang Aceh dan Van Der
Heyden membubarkan unit "De Marsose".Peristiwa ini juga menyebabkan
kesuksesan jendral selanjutnya karena banyak orang yang tidak ikut melakukan
Jihad kehilangan nyawa mereka, dan ketakutan amsih tetap ada pada populasi
Aceh.
f.
Kematian Teuku Umar
Jendral
Van Heutz memanfaatkan ketakutan ini dan mulai menyewa orang Aceh untuk
memata-matai pasukan pemberontak sebagai informan sehingga Belanda menemukan
rencana Teuku Umar untuk menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899, dan
akhirnya, Teuku Umar gugur tertembak peluru. Hal ini diketahui karena
diinformasikan oleh informan yang bernama Teuku Leubeh.Ketika Cut Gambang, anak
Cut Nyak Dhien mendengar kematian ayahnya, ia ditampar oleh ibunya yang lalu memeluknya
dan Dien berkata:“ Sebagai wanita Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata
pada orang yang sudah "Shaheed" ”
g.
Ditangkap Belanda
Anak buah
Cut Nyak Dhien yang bernama Pang Laot melaporkan lokasi markasnya kepada
Belanda sehingga Belanda menyerang markas Cut Nyak Dien di Beutong Le Sageu.
Mereka terkejut dan bertempur mati-matian, dan Pang Karim, pasukannya berkata
akan menjadi orang terakhir yang melindungi Dien sampai kematiannya.Akibat Cut
Nyak Dhien memiliki penyakit rabun, ia tertangkap dan ia mengambil rencong dan
mencoba untuk melawan musuh, namun aksinya berhasil dihentikan oleh Belanda. Ia
ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh. Ia dipindah ke Sumedang berdasarkan Surat
Keputusan No 23 (Kolonial Verslag 1907 : 12). Cut Gambang berhasil melarikan
diri ke hutan dan ia terus melanjutkan perlawanan yang sudah dilakukan ayah dan
ibunya
h.
Dibuang di Sumedang
Ia dibawa
Sumedang bersama dengan tahanan politik Aceh lainnya dan menarik perhatian
bupati Suriaatmaja, selain itu, tahanan laki-laki juga mendemonstrasikan
perhatian pada Cut Nyak Dhien, tetapi tentara Belanda dilarang mengungkapan
identitas tahanan. Diasingkan berdasarkan Surat Keputusan No 23 (Kolonial
Verslag 1907 : 12).
i.
Kematian
Setelah ia
dipindah ke Sumedang, pada tanggal 6 November 1908, Cut Nyak Dhien meninggal
karena usianya yang sudah tua. Makam "Ibu Perbu" baru ditemukan pada
tahun 1959 berdasarkan permintaan Gubernur Aceh saat itu, Ali Hasan. Pada tahun
1960, orang lokal Sumedang yang mencari tahu kembali siapakah "Ibu Perbu",
telah meninggal, namun, informasi datang dari surat resmi pemerintah Belanda
pada "Nederland Indische", ditulis oleh Kolonial Verslag, bahwa
"Ibu Perbu", pemimpin pemberontakan provinsi Aceh telah dibuang di
Sumedang, Jawa Barat. Hanya terdapat satu tahanan politik wanita Aceh yang
dikirim ke Sumedang, sehingga disadari bahwa Ibu Perbu adalah Cut Nyak Dhien,
"Ratu Jihad" dan diakui oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan
Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei
1964.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar